Dampak Konversi Hutan Terhadap Erosi dan Penyerapan Air Tanah

Oleh Anton Sutrisno

Tidak dapat dipungkiri, konversi hutan menjadi lahan pertanian khususnya pada lahan miring merupakan kegiatan yang beresiko tinggi ditinjau darisudut pandang pengelolaan daerah tangkapan air. Masalah utama yang dihadapi akibat adanya perubahan tutupan lahan pada lahan miringadalah berubahnya fungsi hidrologi kawasan tersebut. Sayangnya,penulis belum dapat memperoleh hasil penelitian pada lokasi kebun sawit, untuk pembahasan ini menggunakan kajian penelitan padaagroforestri berbasis kebun kopi.

Hasil penelitian pada perkebunan kopi, meskipun pada usia lebih dari 10 tahun ternyata tidak dapat melakukan peran penyerapan air ke dalam tanah sebagaimana hutan awalnya (Widianto, dkk, 2004 dan Hairiah, dkk 2004). Padahal karakter agroforestri kebun kopi memiliki tanaman yang tidak homogen,ada tanaman pelindung, dan permukaan tanahnya tidak dalam kondisi bersih. Tetapi banyak terdapat serasah yang dimungkinkan hidup biota tanah yang lebih banyak.

Limpasan permukaan dan kehilangan tanah merupakan salah satu akibat dari perubahan kerapatan vegetasi penutup tanah dan kualitas struktur tanah.Perubahan kualitas struktur tanah diduga sebagai akibat dari kegiatan alih guna lahan, misalnya dari hutan menjadi kebun kopi di Sumberjaya (Verbist dan Pasya, 2004).

Melihat kondisitersebut, jika dibandingkan dengan tanaman pekebunan kelapa sawit,atau tanaman tegalan maka kehilangan tanah dan limpasan permukaan airketika hujan akan lebih tinggi. Meskipun belum didapat data yang pasti dari hasil penelitian. Lahan tegalan biasanya sering tidak berpelindung tanaman, jika terjadi hujan maka permukaan tanah akan terkena percikan langsung. Tanah yang kebanyakan terbuka, tidak ada tanaman penutup permukaan akan semakin mempercepat erosi.

 

Sumber : http://www.antonsutrisno.webs.com

2 responses to this post.

  1. Posted by Handhaka on October 16, 2011 at 1:04 am

    perkebunan saat ini sudah merambah hutan alami…..hal ini yang perlu dicegah…karena hutan alami sangat penting untuk penyerap CO2 pencemar dan penghasil O2 serta untuk penyimpan air tanah…………Kelapa sawit lebih ke tanaman monokultur, tetapi tanaman ini juga dapat dengan tumpang sari, tanaman meranti dan yg lainnya.

    Reply

  2. Ada juga yang perlu menjadi pertimbangan, perubahan cara pandang terhadap gulma. Kebanyakan pada gulma di musnahkan dengan menggunakan herbisida. Dampaknya tidak hanya gulma saja yang mati, tetapi mahluk biotik yang ada di tempat tersebut. Akhirnya siklus alami sebuah daur ulang unsur hara menjadi terhenti. Gulma harus dikendalikan secara bijaksana.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: