Pertanian Berkelanjutan Dengan Sistem Tumpang Sari Ramah Lingkungan

 

Pengelolaan usaha pertanian berkelanjutan yang masih dapat dikembangkan dan dipadukan dengan budidaya yang lain, seperti peternakan dan perkebunan sehingga sebuah usaha tani akan mempunyai pendapatan yang sifatnya berkesinambungan dari mulai pendapatan bulanan, 3 bulanan, 6 bulanan sampai tahunan serta perencanaan pendapatan untuk jangka panjang serta penggunaan pupuk, pestisida maupun pemberantasan hama secara  organik/alami yang ramah lingkungan akan menyelamatkan air tanah/tanah dari pencemaranan bahan pestisida kimia/zat kimia lainnya dan juga untuk menjaga kesehatan manusia serta pemanasan global.

 

Menjadikan kegiatan pertanian sebuah usaha mandiri yang dapat menopang ekonomi keluarga merupakan idaman bagi semua petani, namun untuk menuju kesana diperlukan semangat juang, teknologi yang memadai, kreatifitas serta perencanaan yang matang dalam menentukan budidaya secara efektif dan tepat.

Kebutuhan ekonomi keluarga yang berlangsung terus – menerus setiap harinya harus dapat diimbangi dengan budidaya yang terencana dan mengarah pada keberlanjutan. Salah satu perencanaan budidaya secara sederhana yang cukup efektif adalah dengan sistem tumpang  sari yang ramah lingkungan.

Tumpang Sari Ramah Lingkungan merupakan salah satu teknik budidaya dengan beberapa jenis tanaman yang dikelola secara bersamaan dengan memperhitungkan masa panen tanaman tersebut. Pengertian ramah lingkungan disini, di samping mengurangi penggunaan bahan-bahan anorganik (pupuk kimia, pestisida) dan meningkatkan penggunaan bahan-bahan organik (Kompos, Bokashi, pupuk organik cair dll) serta dalam mengatasi/mengusir hama pun dengan cara alami, dengan pestisida alami, perasan air bawang putih untuk hama kutu putih ataupun dengan kecubung untuk hama pada padi dan tanaman hortikultura  serta buah jengkol untuk hama tikus, dsb. Juga berorientasi untuk menjaga keseimbangan antarkomponen ekosistem. Hal ini dilakukan untuk menjaga keragaman spesies (komoditas) serta menjamin kelestarian sumber daya pertanian, seperti lahan air, dan organisme-organisme yang hidup didalamnya yang bermanfaat bagi kestabilan ekosistem.

Tujuan dari teknik tersebut diantaranya :

  • Usaha pertanian mempunyai hasil panen yang berkesinambungan
  • Mencoba memaksimalkan pengolahan lahan
  • Mengefektifkan penanggulangan hama dan penyakit
  • Menghemat sarana produki pertanian
  • Menjaga konservasi air dan tanah dari pencemaran zat kimia
  • Mencegah pemanasan global (Global Warming)
  • Menjaga kesehatan manusia

Langkah awal untuk untuk budidaya tumpang sari adalah menentukan jenis tanaman yang akan dibudidayakan, baik untuk jenis tanaman jangka pendek, atau jangka panjang. Sebagai gambaran, misalkan pada lahan yang dikelola akan dibudidayakan tanaman karet yang merupakan budidaya jangka panjang.

Hal ini akan lebih efektif jika diawali dengan pertanian hortikultura untuk budidaya jangka pendek, yaitu dengan budidaya cabai, sawi, tomat, labu, dan jenis sayuran lainnya atau palawija. Sampai tanaman karet kira-kira berumur 2,5 tahun, disela-selanya masih dapat dibudidayakan tanaman hortikultura.

Jenis tanaman hortikultura atau sayuran juga masih dapat dilakukan secara tumpang sari dalam pengelolaannya, yaitu dengan memperhitungkan masa panen tanaman tersebut. Misalnya sayuran yang berumur pendek seperti sawi, bayam, kangkung dapat dipadukan atau ditanam secara bersama-sama dengan tanaman sayuran jangka menengah seperti kubis, tomat dan cabai.

Menanam cabai, kubis dan sawi secara bersamaan dalam satu lahan dan satu balur merupakan salah satu contoh tumpang sari tanaman sayuran dengan alur masa panen yang berkesinambungan. Tanaman sawi akan habis masa panennya lebih awal antara 25-40 hari, setelah sawi habis maka tanaman kubis yang mempunyai masa panen antara umur 65-80 hari menjadi panen yang kedua. Sedang tanaman cabai yang masa panennya antara umur 3-6 bulan akan mengisi panen yang berikutnya. Dengan adanya pengelolaan yang tepat dalam satu lahan akan menghasilkan tanaman sayuran secara berturut-turut.

Gambaran di atas merupakan contoh kecil dalam pengelolaan usaha pertanian berkelanjutan yang masih dapat dikembangkan dan dipadukan dengan budidaya yang lain, seperti peternakan dan perkebunan sehingga sebuah usaha tani akan mempunyai pendapatan yang sifatnya berkesinambungan dari mulai pendapatan bulanan, 3 bulanan, 6 bulanan sampai tahunan serta perencanaan pendapatan untuk jangka panjang.

Untuk perencanaan tersebut di atas sudah tentu perawatan atau pemeliharaannya dilakukan dengan cara alamiah atau organik, dengan tidak sama sekali menggunakan bahan-bahan kimia serta dalam pemanfaatan lahannya harus dihindarkan penebangan pohon alami secara besar-besaran/liar  atau bukan di lahan konservasi/hutan lindung serta tidak menimbulkan bahaya longsor ataupun pembukaan lahan tanpa tebas bakar. Karena hal ini untuk mencegah kerusakan dan terganggunya  konservasi atau vegetasi/habitat  alami.

 

Oleh : Handhaka. W

Sumber :

 Suwardi-Fasilitator Pertanian Sub-Program Kampung Konservasi Yayorin (Pertanian Alternatif : Pertanian Berkelanjutan Dengan Sistem Tumpang sari,SUMPITAN (Suara Pinggiran Hutan). Media Informasi Yayasan Orang Utan Indonesia;No. 23/April-Juni/2009.

Saatnya Menerapkan Pertanian Tekno-Ekologis, Sebuah Model Pertanian Masa Depan untuk Menyikapi Perubahan Iklim;Supario Guntoro, 2011

Kemiri Sunan Menjawab Global Warming

Kemiri Sunan merupakan tumbuhan asli dari Philipina, namun saat ini banyak tumbuh secara alami di Jawa Barat (Duke, 1983). Kini mulai dikembangkan di kawasan Sumedang.

Kondisi iklim yang optimal untuk pertumbuhannya adalah pada suhu 18,7–26,2oC, pH 5,4–7,1.Dapat hidup pada ketinggian rendah sampai menengah, di Jawa barat ditemukan hidup pada ketinggian lebih dari 1000 meter (Hyne, 1987).

Tumbuh sebagai tegakan, tinggi dapat mencapai 15 meter atau lebih, hidup sampai usia di atas 75 tahun dan mempunyai kanopi yang cukup rapat dan lebar. Kanopi yang rapat dan lebar mampu menahan tetesan air hujan jatuh langsung ke permukaan tanah, sehingga mengurangi erosi dan meningkatkan penyerapan air ke dalam tanah. Perakaran tunggang mampu mencegah tanah longsor.Mempunyai daun lebat (mencapai puluhan ribu helai daun/pohon), mampu mengikat karbondioksida dan menghasilkan oksigen dalam jumlah banyak. Jika rehabilitasi seluruh lahan kritis di Indonesia (59,2 juta ha), lahan hutan dan lahan tidak produktif menggunakan kemiri sunan, maka akan tertanam lebih dari 10 milyar pohon sehingga terdapat triliun-an helai daun. Apabila hal ini terealisasi, Indonesia menjadi penyuplai oksigen terbesar di dunia.

Kemiri Sunan sebagai Solusi Krisis Energi.

Dengan menanam pohon ini akan terjadi multiplyer effects, karena selain merupakan solusi tepat untuk rehabilitasi lahan kritis, Kemiri Sunan juga menghasilkan bahan bakar alternatif. Seiring dengan kebijakan pemerintah dalam pengurangan subsidi harga BBM, pengembangan teknologi untuk mendapatkan energi alternatif pengganti peran BBM di dalam negeri semakin berpeluang. Hal tersebut mendukung Kebijakan Energi Nasional (KEN) melalui diversivikasi dan konservasi energi. Salah satu teknologi tersebut adalah penggunaan minyak Nabati sebagai biodiesel. Minyak nabati terbarukan tersebut bisa diperoleh dari biji Kemiri Sunan dan biji Jarak pagar.

Potensi terbesar dari tanaman Kemiri Sunan ada pada buah yang terdiri dari biji dan cangkang (kulit). Pada biji terdapat inti biji dan kulit biji. Inti biji inilah yang nantinya dapat diproses menjadi minyak kemiri sunan dan digunakan sebagai sumber energi alternatif pengganti solar (biodiesel) melalui proses lebih lanjut.

Inti dari buah mampu menghasilkan minyak sebesar 56 % (Vassen & Umali, 2001). Untuk mendapatkan minyak, inti biji harus diperah terlebih dahulu. Hasil dari perahan ini berupa minyak berwujud cairan bening berwarna kuning dan bungkil. Komposisi minyak terdiri dari asam palmitic 10 %, asam stearic 9 %, asam oleic 12 %, asam linoleic 19 % dan asam α-elaeostearic 51 %. Asam α-elaeostearic menjelaskan adanya kandungan racun pada minyak.

Minyak Kemiri Sunan hasil perahan tersebut kemudian diproses lebih lanjut menjadi biodiesel. Minyak tersebut selain digunakan sebagai biodiesel, juga digunakan dalam berbagai produk industri. Antara lain digunakan sebagai bahan untuk membuat pernis, cat, sabun, linoleum, minyak kain, resin, kulit sintetis, pelumas, kampas, dan campuran pada pembersih/pengkilap, pelindung kontainer makanan dan obat-obatan, melapisi/melindungi permukaan kawat dan logam lain seperti pada radio, radar, telepon, dan perlengkapan telegraf (Duke, 1978).

Sisa dari ekstraksi berupa bungkil mengandung 6 % nitrogen, 1,7 % potassium dan 0,5 % phosphor. Bungkil ini dapat diolah lebih lanjut menjadi biogas. Dari 3 kg bungkil diperoleh 1,5 m3 biogas atau setara dengan 1 liter minyak tanah.

Menurut Tatang (2007), rata-rata kebutuhan harian biogas utk 1 rumah tangga adalah 2 – 3 m3/hari, sehingga dibutuhkan 6 – 9 kg bungkil per hari, atau 2 – 3 ton bungkil per tahun. Untuk mencukupi kebutuhan tersebut diperlukan sekitar 6 ton biji kering per tahun.

Jika diasumsikan produktivitas per pohon pada usia diatas 7 Th mencapai 300 kg biji kering per tahun, maka tiap rumah tangga mampu mencukupi sendiri kebutuhan biogas per tahun hanya dengan menanam 15 pohon Kemiri Sunan, tidak perlu lagi membeli minyak tanah. Dengan demikian penjarahan hutan untuk kayu bakar tidak perlu terjadi lagi.

Limbah bungkil sisa dipakai untuk biogas dapat digunakan sebagai pupuk. Sebagai pembanding, untuk 1 Ha tanaman padi dibutuhkan pupuk urea sebesar 150 kg (kandungan N 45%). Jika diasumsikan dalam 1 kg bungkil limbah biogas mengandung N 6 %, maka per Ha diperlukan sekitar 7,2 ton bungkil limbah biogas *.

Dalam setahun terdapat 3 kali musim tanam padi, maka total yang dibutuhkan adalah 6-7,2 ton bungkil limbah biogas untuk dapat menggantikan urea, jumlah yang masih dapat dipenuhi hanya dengan menanam 48 pohon.

Apabila setiap rumah tangga menanam lebih dari 48 pohon, bisa dibayangkan berapa luas lahan yang bisa dipupuk tanpa harus membeli urea.(di input awal untuk 2 Th *).

Bisa disimpulkan bahwa bukan merupakan hal yang mustahil bahwa dengan Kemiri Sunan kita mampu mewujudkan DESA MANDIRI ENERGI DAN DESA MANDIRI PUPUK.

http://kemiri-sunan.blogspot.com/

Buah Kemiri Sunan Sebagai Sumber Energi Alternatif Pengganti BBM

 

 

 

 

 

 

 

 

30 March 2012
oleh : Oktavio Nugrayasa

 

Pendahuluan

Kelangkaan bahan bakar minyak, yang disebabkan oleh kenaikan harga minyak mentah dunia yang signifikan, telah mendorong pemerintah untuk mengajak masyarakat mengatasi masalah energi bersama-sama. Kenaikan harga minyak dunia (27/3) yang telah mencapai 125 dollar AS per barel akibat kekhawatiran tidak stabilnya keuangan Eropa, ditambah keputusan beberapa negara menghentikan ekspor minyak dari Iran berdampak kepada membengkaknya beban subsidi pemerintah untuk Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam APBN 2012.

Masalah ini memang pelik sebagaimana dampak kenaikan harga BBM, yang masih menunggu keputusan Sidang Paripurna DPR pada Jumat (30/3) ini, dari Rp 4.500/liter menjadi Rp 6.000/liter yang akan berlaku per 1 April 2012.

Gejolak harga minyak mentah dunia yang terus meningkat, memerlukan langkah-langkah strategis dalam mengatasinya. Salah satunya melalui upaya penghematan yang seharusnya kita gerakkan sejak dahulu karena pasokan bahan bakar yang berasal dari minyak bumi adalah sumber energi fosil yang tidak dapat diperbarui (unrenewable), sedangkan permintaan naik terus, demikian pula harganya sehingga tidak ada stabilitas keseimbangan permintaan dan penawaran. Salah satu jalan untuk menghemat bahan bakar minyak (BBM) adalah mencari sumber pengembangan energi alternatif yang dapat diperbarui/terbarukan (renewable).

Salah satu energi terbarukan yang dapat dihasilkan dengan teknologi tepat guna yang relatif lebih sederhana dan sesuai potensi wilayah di Indonesia terutama di pedesaan adalah Buah Kemiri Sunan, yang merupakan salah satu jenis tanaman yang menghasilkan buah mengandung minyak nabati dan potensial digunakan sebagai bahan baku pengganti solar (biodesel).

1.      Energi Alternatif

Populasi tanaman Kemiri Sunan yang memiliki nama latin (reutealis trisperma) telah menyebar hampir di beberapa daerah di Indonesia. Pada awalnya bertujuan untuk penghijauan dan reboisasi hutan serta dapat dibudidayakan pada berbagai jenis tanah yang memiliki drainase baik di ketinggian maksimun 700 meter diatas permukaan laut, sehingga dapat tumbuh hampir di setiap lahan wilayah Indonesia. Kemiri Sunan pertama kali dikembangkan oleh bangsa Cina untuk memenuhi kebutuhan minyak Tung Oil pada abad ke-18 digunakan sebagai pengawetan kayu pada kapal-kapal phinisi. Dalam perkembangannya kemudian menyebar sampai wilayah Indonesia.

Sumber Staf Khusus Presiden Bidang Pangan dan Energi tahun 2012, menginformasikan, data sebaran pohon kemiri sunan ada di Jakarta sebanyak 3.500 pohon, Bekasi sebanyak 30.000 pohon, Kuningan sebanyak 10.000 pohon, Majalengka sebanyak 10.000 pohon, Jati Gede sebanyak 10.000 pohon, Bandung sebanyak 3.000 pohon, Ngawi sebanyak 40.000 pohon, Lamongan sebanyak 13.000 pohon, Nusa Penida-Bali sebanyak 15.000 pohon, Lombok sebanyak 14.500 pohon dan Timor sebanyak 20.000 pohon.

Potensi buah kemiri sunan yang memiliki nilai ekonomis, ramah lingkungan serta tersedia melimpah mulai dikembangkan menjadi alternatif minyak nabati non pangan untuk sumber energi terbarukan telah dikembangkan di Pondok Pesantren Sunan Drajat, di Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur. Saat ini, pohon kemiri Sunan yang tumbuh dan berada di sekitar pondok pesantren sebanyak 5.000 pohon yang ditanam sekitar tahun 2009 dan setelah berumur 3 tahun sudah berbunga dan menjadi buah.

Proses pengolahan kemiri sunan menjadi biodiesel relatif sederhana, yaitu: dari biji kering diproses menjadi kernel dan di press untuk menghasilkan minyak mentah, kemudian dilakukan proses pemurnian dengan menggunakan alat lokal buatan sendiri untuk menghasilkan biodiesel.

Dari hasil penelitian membuktikan bahwa biji Kemiri Sunan dari hasil panen seluas 1 hektar akan menghasilkan 6.000 liter biodiesel, sedangkan produk olahan sampingan dari setiap 3 kg bungkil tersebut akan memperoleh 1,5 m3 biogas atau setara dengan 1 liter minyak tanah.

2.      Manfaat Kemiri Sunan

Kemiri Sunan akan memberikan manfaat/multiflier effect bagi masyarakat setempat sehingga sangat memungkinkan untuk dikembangkan, antara lain:

a. Tanaman Konservasi Reforestasi dan Pemanfaatan Lahan Kritis, dikarenakan mempunyai dahan yang lebat, rapat dan lebar mampu menahan tetesan air hujan jatuh langsung ke tanah sehingga akan mengurangi dampak erosi serta meningkatkan penyerapan air ke dalam tanah; sifatnya dapat mengikat jumlah karbondioksida dan menghasilkan oksigen dalam jumlah cukup besar sehingga mampu mengatasi masalah global warming sekaligus memberikan manfat dari carbon trade; akar tunggang yang mampu menyimpan air sekaligus dapat mencegah bahaya longsor; memperbaiki lahan kritis dan mendayagunakan lahan terlantar.

b. Menghasilkan Energi Alternatif, dikarenakan inti biji kemiri sunan dapat diproses menghasilkan energi terbarukan pengganti solar (biodiesel), dan sisa olahannya berupa gliserol dapat dipergunakan untuk pembuatan sabun mandi, serta minyaknya dapat diproses menjadi bahan baku bagi pembuatan vernis, cat, bahan pengawet, tinta dan bio-peptisida.

c. Membangun Pemberdayaan Ekonomi Rakyat, dikarenakan mempunyai manfaat ganda baik manfaat secara tidak langsung dan langsung.

1)      Manfaat Tidak Langsung

a)  Membantu masyarakat menggunakan bahan bakar alternatif terbarukan dan sekaligus dapat menghemat pengeluaran komsumsi bahan bakar minyak tanah dengan menggunakan biomas atau sisa prescake diolah menjadi briket, serta dapat diproses menjadi biogas dan langsung dipakai mempergunakan kompor biogas;

b)  Mandiri pupuk organik yang diperoleh dari daun yang rontok di musim kering dan biomas daging buah digunakan sebagai kompos;

c)  Membangun industri pengolahan biji kemiri sunan menjadi minyak KS (crude oil). Dengan demikian sampah pengolahan seluruhnya dapat dimanfaatkan masyarakat.

2)      Manfaat Langsung

a)  Dengan asumsi produktivitas per pohon kemiri sunan yang berumur (> 8 tahun) mencapai 300 kg biji kering per tahun dan harga sebesar Rp 500/kg, maka dari 1 (satu) pohon akan diperoleh pendapatan sebesar Rp. 90.000 s/d Rp 150.000 per tahun;

b)  Jika per hektar ditanami sebanyak 50 pohon, maka akan diperoleh pendapatan sebesar Rp 4.500.000 s/d Rp 7.500.000 per tahun;

c)  Jika jalan di suatu desa ditanami sebanyak 100 pohon per kilometer, maka akan diperoleh pendapatan asli desa sebesar Rp. 9.000.000 per tahun.

Kesimpulan

Dengan melihat kecendrungan harga dan komsumsi BBM yang terus meningkat, maka penggunaan biodiesel bersumber dari pohon kemiri sunan perlu dipertimbangkan untuk dilakukan. Hal ini dikarenakan kemiri sunan memiliki nilai ekonomis yang tinggi, ramah lingkungan, serta tersedianya jumlah sumberdaya sehingga dapat dipergunakan sebagai alternative minyak nabati non pangan untuk sumber energy terbarukan.

(Anggota Desk Info-Setkab)

Pentingnya Konservasi Air

Air merupakan elemen paling melimpah di atas bumi  yang meliputi 70% permukaan dengan jumlah sekitar 1,4 ribu juta kilometer kubik. Namun hanya sekitar 0,003% yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupan sehari-sehari. Sebagian besar air, sekitar 97%, ada di samudera  dan kadar garamnya terlalu tinggi untuk kebanyakan keperluan. 3% sisanya, sekitar 87%, tersimpan dalam lapisan kutub atau sangat dalam di bawah tanah. 

Potensi ketersediaan air bersih di Indonesia dari tahun ke tahun cenderung berkurang akibat rusaknya daerah tangkapan air dan pencemaran lingkungan yang diperkirakan sebesar 15–35% per kapita per tahun. United States Agency for International Development (USAID)  dalam laporannya (2007) menyebutkan penelitian di berbagai kota di Indonesia menunjukkan hampir 100% sumber air minum kita tercemar oleh bakteri E Coli dan Coliform.

Di Indonesia pada 2007 tercatat sekitar 13 ribu industri besar dan menengah yang berpotensi mencemari air permukaan dan air tanah. Jumlah ini meningkat sekitar 29% dibanding dengan keadaan pada tahun 2004. Sedangkan untuk industri kecil ada sekitar 94 ribu industri yang berpotensi mencemari air permukaan dan air tanah pada tahun 2007. Jumlah ini menurun sekitar 13 % dibandingkan dengan keadaan pada tahun 2005.

Selain dari industri, penggunaan pupuk dan insektisida di sektor pertanian dan perkebunan juga berpotensi mencemari air terutama air permukaan. Pada tahun 2006 penggunaan pupuk anorganik dan pestisida meningkat lima kali lipat dibandingkan dengan penggunaan tahun 2004. Sumber pencemaran lainnya adalah limbah dari rumah tangga. Di Indonesia pada tahun 2007 terdapat sekitar 23% rumah tangga yang tidak mempunyai fasilitas tempat buang air besar.

Dengan kondisi tersebut, diperlukan kerjasama semua pihak untuk memelihara dan menjaga sumber air yang ada di bumi ini. Baik industri maupun individu yang dalam keseharian memanfaatkan air untuk pelbagai aktifitas dalam kehidupan sehari-hari.

 

Pelan tapi pasti, Program PNPM LMP dilaksnakan untuk membantu menjawab dengan merealisasikan program-program konservasi dan rehabilitasi, Income Generating Activity dan Renewable Energy,yang salah satunya adalah  untuk menjaga konservasi air.GO Green.

Diteruskan oleh : Handhaka W

dari Berita Obrolanlangsat.com

Bio-slurry hasil Proses Biogas Untuk Pertanian & Perkebunan Ramah Lingkungan

Bio-slurry dikeluarkan dari reaktor menahan semua nutrisi yang telah ada di materi suapan. Ini membuat bio-slurry berpotensi menjadi pupuk organik. Aplikasi yang benar telah terbukti untuk memproduksi hasil yang lebih tinggi dibanding pupuk biasa. Ini juga menjadi solusi yang tepat untuk nutrisi kandungan tanah pertanian yang berkekurangan di negara berkembang. Nilai nutrisi slurry dapat meningkat jika kencing juga dapat dicampurkan ke dalam digester. Slurry meningkatkan produksi pertanian dan perkebunan dan meningkatkan produktifitas perkembang biakan ikan.

Apa itu bio-slurry?
Campuran kotoran dan air ke dalam bangunan biogas berwujud setengah cairan dinamakan “slurry mentah”. Slurry yang belum dicerna ini melalui proses pencernaan anaerobik atau fermentasi di dalam digester biogas dan berubah menjadi bahan bakar gas yang dinamakan “biogas”. Sisa dari fermentasi keluar sebagai lumpur yang dikenal sebagai “bio-slurry tercerna”.

Komposisi bio-slurry
Komposisi bio-slurry tergantung dari suapan dan jumlah air yang ditambahkan ke kotoran. Ketika kotoran dicampur dengan jumlah air yang sama, setelah pencernaan komposisi slurry tercatat sebagai: 93% air dan 7% bahan kering. Nitrogen (N), Phosphorus (P) dan Potassium (K) merupakan nutrisi yang amat diperlukan tanaman. Konten NPK di cairan slurry adalah 0.25, 0.13 dan 0.12% masing-masing.

Karakter Bio-slurry
1. Karena telah terfermentasi sepenuhnya, bio-slurry tidak bau dan tidak mengundang lalat.
2. Bio-slurry mengusir rayap dan hama yang tertarik pada kotoran mentah.
3. Bio-slurry mengurangi pertumbuhan rumput liar. Penggunaan bio-slurry mengurangi pertumbuhan rumput liar  hingga 50%.
4. Bio-slurry adalah kondisioner tanah yang sangat bagus, menambah humus dan meningkatkan kapasitas kandungan air dalam tanah.
5. Bio-slurry bebas pathogen. Fermentasi kotoran di dalam reaktor membunuh organisme penyebabkan penyakit tanaman.

Penggunaan Bio-slurry yang Benar
1. Semua nutrisi tanaman (seperti NPK) tersimpan selama proses fermentasi agar tanaman dapat menyerap nutrisi ini dengan cepat. Dapat juga digunakan sebagai pupuk siap pakai.
2. Setelah disimpan selama beberapa hari atau dicampur dengan komposisi air 1:1, bio-slurry dapat diaplikasikan langsung ke sayuran atau buah-buahan seputar rumah tangga. Penggunaan di saluran irigasi sangat berguna untuk sayur mayur, khususnya tumbuhan akar-akaran, padi, tebu gula, pohon buah-buahan dan pohon kecil. Perkembang biakan jamur juga mendapatkan manfaat dari bio-slurry.
3. Menyemprot bio-slurry (dengan atau bahkan tanpa tambahan pestisida sedikit) dapat mengontrol secara efektif laba-laba merah dan sejenisnya dari menyerang sayur mayur, gandum dan kapas. Efek dari bio-slurry dengan 15-20% pestisida untuk mengendalikan hama sama efektifnya dengan menggunakan pestisida murni.
4. Melapisi biji jelai/gandum dengan bio-slurry dapat secara efektif mengendalikan virus mosaik kuning gandum, yang merupakan salah satu penyakit paling merusak di daerah pertumbuhan gandum.
5. Slurry tercerna yang kering berpotensi untuk digunakan sebagai suplemen makanan bagi babi, ternak, ayam dan ikan.

BIRU mengadvokasikan aplikasi bio-slurry sebagai pupuk organik yang mendukung siklus nutrisi, sekaligus memeriksa erosi dan degradasi tanah. Selain itu, proses biogas netral karbon, menkontribusi terhadap pengurangan emisi gas rumah hijau secara global. Penggunaan bio-slurry merupakan langkah berikut dalam merubah sampah menjadi bermanfaat.

Aplikasi ampas biogas untuk rumah tangga

Setelah keluar dari outlet, bio-slurry cair diendapkan atau didiamkan di lubang penampungan yang ternaungi minimal selama 1 minggu untuk mengurangi atau menghilangkan gas yang tidak baik bagi tanaman ataupun ternak. Bio-slurry dapat digunakan langsung pada tanaman atau diencerkan dengan air dengan perbandingan 1:1 atau 1:2. Untuk penggunaan padat, bio-slurry lebih baik dikeringkan secara alami (terlindungi dari sinar matahari langsung) minimal selama 40 hari.

Penggunaan bio-slurry cair dan padat

Bio-slurry cair dapat langsung digunakan di pekarangan rumah yang hanya memerlukan jumlah yang sedikit. Jika diperlukan untuk penggunaan di kebun dalam jumlah banyak, bio-slurry cair dapat diangkut menggunakan kendaraan. Untuk lahan berbukit atau miring (lereng), gunakan bio-slurry padat atau yang sudah dikomposkan untuk mempermudah penanganan dan pengangkutan.

Cara mudah menggunakan bio-slurry di pekarangan dan kebun

Bio-slurry cair dan padat bisa digunakan pada tanaman di pekarangan. Bio-slurry cair digunakan dengan menyiramkan ke pot/polybag atau tanah. Bio-slurry padat digunakan dengan cara disebar saat pengolahan tanah dan pertengahan musim tanam. Hal yang sama dapat dilakukan di kebun dengan menggunakan bio-slurry cair atau padat atau kombinasi keduanya (1) saat olah lahan, (2) dengan cara disiramkan per lubang bila menggunakan mulsa atau (3) disiramkan di antara tanaman.

Hasil BLM (Bantuan Langsung Masyarakat) PNPM – LMP untuk unit Biogas selain manfaat untuk menghasilkan gas adalah hasil akhir dari proses fermentasi di dalam kubah Biogas adalah menghasilkan Bio-Slurry (pupuk cair dan padat) yang sangat bermanfaat untuk kesuburan tanah lahan pertanian dan perkebunan masyarakat. Khususnya di Kabupaten Bengkulu Selatan, Desa Batu Panco Kecamatan Ulu Manna, Bio-Slurry/pupuk cair ini sangat diminati oleh pemilik kebun dan pupuk cair ini sudah mempunyai nilai ekonomis dengan dihargai Rp. 10.000 per jerigen 20 liter. Jadi pemanfaat dari Biogas ini bukan hanya dari yang mendapatkan gas tapi juga pemanfaat Bio-slurrynya.

Diteruskan oleh :

Handhaka. W

Sumber Energi Terbarukan dari Limbah Kelapa Sawit

Potensi Limbah Biomassa Kelapa Sawit Sebagai Sumber Energi Terbarukan

Indonesia memiliki potensi besar untuk memanfaatkan produk samping sawit sebagi sumber energi terbarukan. Kelapa sawit Indonesia merupakan salah satu komoditi yang mengalami pertumbuhan sangat pesat. Pada periode tahun 1980-an hingga pertengahan tahun 1990-an luas areal kebun meningkat dengan laju 11% per tahun.Sejalan dengan luas area produksi CPO juga meningkat dengan laju 9.4% per tahun. Sampai dengan tahun 2010 produksi CPO diperkirakan meningkat dengan laju 5-6% per tahun, sedang untuk periode 2010 – 2020 pertumbuhan produksi berkisar antara 2% – 4%.

Proses pengolahan tandan buah segar (TBS) menjadi crude palm oil (CPO) menghasilkan biomassa produk samping yang jumlahnya sangat besar. Biomassa dari produk samping sawit dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan. Salah satunya adalah POME untuk menghasilkan biogas. Potensi produksi biogas dari seluruh limbah cair tersebut kurang lebih adalah sebesar 1075 juta m 3 . Nilai kalor ( heating value ) biogas rata-rata berkisar antara 4700–6000 kkal/m 3 (20–24 MJ/m 3 ). Dengan nilai kalor tersebut 1075 juta m 3 biogas akan setara dengan 516 000 ton gas LPG, 559 juta liter solar, 666.5 juta liter minyak tanah, dan 5052.5 MWh listrik.

Pengembangan produk samping sawit sebagai sumber energi alternatif memiliki beberapa kelebihan. Pertama ,sumber energi tersebut merupakan sumber energi yang bersifat renewableKedua , Indonesia merupakan produsen utama minyak sawit sehingga ketersediaan bahan baku akan terjamin dan industri ini berbasis produksi dalam negeri. Ketiga , pengembangan alternatif tersebut merupakan proses produksi yang ramah lingkungan. Keempat , upaya tersebut juga merupakan salah satu bentuk optimasi pemanfaatan sumberdaya untuk meningkatkan nilai tambah.

sumber : (http://www.ipard.com/art_perkebun/apr11-05_isr+edw.asp)

diteruskan oleh Handhaka.W

Potensi Tanaman Nyamplung

Tanaman Nyamplung Berpotensi Sebagai Sumber Energi Biofuel
Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman, Badan Litbang Kehutanan Departemen Kehutanan akan menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema “Nyamplung – Sumber Energi Biofuel yang Potensial” pada hari Selasa tanggal 23 September 2008 di Ruang Rimbawan I, Gedung Manggala Wanabakti, Jl. Gatot Soebroto, Jakarta. Seminar ini diselenggarakan dengan tujuan untuk mensosialisasikan potensi nyamplung sebagai bahan energi biofuel, dan mendukung kebijakan pemerintah dalam mengatasi krisis energi nasional.

Di samping itu juga dalam rangka membangun koordinasi dengan para pihak terkait yang meliputi departemen, instansi pusat dan daerah, TNI AD, Perguruan Tinggi, Lembaga Litbang, BUMN, BUMS, lembaga masyarakat, dan media massa dalam pendayagunaan nyamplung sebagai bahan energi biofuel. Melalui seminar ini diharapkan dapat diperoleh masukan dari berbagai pihak untuk pelaksanan program penelitian dan pengembangan nyamplung pada Badan Litbang Kehutanan.

Nyamplung (Calophyllum inophyllum L.) termasuk dalam marga Callophylum yang mempunyai sebaran cukup luas di dunia yaitu Madagaskar, Afrika Timur, Asia Selatan dan Tenggara, Kepulauan Pasifik, Hindia Barat, dan Amerika Selatan. Di Indonesia, nyamplung tersebar mulai dari Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi, Maluku, hingga Nusa Tenggara Timur dan Papua.

Sampai saat ini potensi alami nyamplung di Indonesia belum diketahui secara pasti, Hasil penafsiran tutupan lahan dari Citra Satelit Landsat7 ETM+ tahun 2003 menunjukkan bahwa tegakan alami nyamplung seluruh pantai di Indonesia mencapai luas total 480,000 ha, dan sebagian besar (? 60 %) berada dalam kawasan hutan. Kelebihan nyamplung sebagai bahan baku biofuel adalah bijinya mempunyai rendemen yang tinggi, bisa mencapai 74%, dan dalam pemanfaatannya tidak berkompetisi dengan kepentingan pangan.

Beberapa keunggulan nyamplung ditinjau dari prospek pengembangan dan pemanfaatan lain, antara lain adalah tanaman nyamplung tumbuh dan tersebar merata secara alami di Indonesia; regenerasi mudah dan berbuah sepanjang tahun menunjukkan daya survival yang tinggi terhadap lingkungan; tanaman relatif mudah budidayakan baik tanaman sejenis (monoculture) atau hutan campuran (mixed-forest); cocok di daerah beriklim kering, permudaan alami banyak, dan berbuah sepanjang tahun; hampir seluruh bagian tanaman nyamplung berdayaguna dan menghasilkan bermacam produk yang memiliki nilai ekonomi; tegakan hutan Nyamplung berfungsi sebagai pemecah angin (wind breaker) untuk tanaman pertanian dan konservasi sempadan pantai; dan pemanfaatan biofuel nyamplung dapat menekan laju penebangan pohon hutan sebagai kayu bakar; produktivitas biji lebih tinggi dibandingkan jenis lain (Jarak pagar 5 ton/ha; sawit 6 ton/ha; nyamplung 20 ton/ha).

Beberapa keunggulan biodiesel yang dihasilkan dari nyamplung adalah rendemen minyak nyamplung tergolong tinggi dibandingkan jenis tanaman lain (jarak pagar 40-60%, Sawit 46-54 %; dan Nyamplung 40-73 %), sebagian parameter telah memenuhi standar kualitas biodiesel Indonesia, minyak biji nyamplung memiliki daya bakar dua kali lebih lama dibandingkan minyak tanah.

Dalam test untuk mendidihkan air, minyak tanah yang dibutuhkan 0,9 ml, sedangkan minyak biji nyamplung hanya 0,4 ml; mempunyai keunggulan kompetitif di masa depan antara lain biodiesel nyamplung dapat digunakan sebagai pencampur solar dengan komposisi tertentu, bahkan dapat digunakan 100 % apabila teknologi pengolahan tepat, kualitas emisi lebih baik dari solar, dapat digunakan sebagai biokerosen pengganti minyak tanah.

Manfaat lain dari bagian tanaman nyamplung adalah kayunya yang termasuk kayu komersial, dapat digunakan untuk bahan pembuatan perahu, balok, tiang, papan lantai dan papan pada bangunan perumahan dan bahan kontruksi ringan; getahnya dapat disadap untuk mendapatkan minyak yang diindikasikan berkhasiat untuk menekan pertumbuhan virus HIV. Daunnya mengandung senyawa costatolide-A, saponin dan acid hidrocyanic yang berkhasiat sebagai obat oles untuk sakit encok, bahan kosmetik untuk perawatan kulit, menyembuhkan luka seperti luka bakar dan luka potong. Bunganya dapat digunakan sebagai campuran untuk mengharumkan minyak rambut. Bijinya setelah diolah menjadi minyak bermanfaat untuk pelitur, minyak rambut dan minyak urut, berkhasiat juga untuk obat urus-urus dan rematik.

Budidaya tanaman nyamplung tidak memerlukan investasi yang besar. Ketersediaan lahan yang potensial untuk pengembangan tanaman nyamplung juga tersebar di seluruh Indonesia. Bila seluruh kebutuhan biodiesel disuplai dari nyamplung, akan dibutuhkan biodiesel sebanyak 720.000 kilo liter atau setara dengan 5.1 juta ton biji nyamplung, dengan asumsi bahwa 2.5 kg biji nyamplung akan menghasilkan 1 liter minyak nyamplung; dengan demikian akan diperlukan luasan panen tanaman nyamplung minimal 254.000 hektar pada tahun 2025.

Dengan pola yang sama dengan kajian analisis ekonomi pada pembangunan Hutan Tanaman Rakyat (HTR) yang menyebutkan bahwa dalam 1 ha diperlukan 1 orang tenaga kerja, pengusahaan tanaman nyamplung seluas 254 ribu hektar akan dapat menyerap 254 ribu tenaga kerja. Dengan berbagai potensi keunggulannya tanaman nyamplung merupakan tanaman yang memberikan multifungsi dan manfaat kepada manusia dan lingkungan. Multifungsi dan manfaat itu meliputi potensi nyamplung sebagai tanaman rehabilitasi hutan dan lahan, sebagai alternatif biofuel, serta meningkatkan pemberdayaan masyarakat (comdev). ant/kp (22 September 2008)

Sumber :

http://www.republika.co.id/berita/4482/Tanaman_Nyamplung_Berpotensi_Sebagai_Sumber_Energi_Biofuel

25 Mei 2009

Sumber Gambar:

Diteruskan oleh : Handhaka. W

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.